Selasa, 04 Februari 2020

MENEROPONG ELEKPOPSITAS (Memilih Pemimpin, Bukan Sekedar Kepala Daerah)

0 komentar
Opini------------‐
Oleh : Delyuzar Syamsi (Bang Del )

Memilih pemimpin tidak bisa  berjudi bak tebak-tebak manggis, berapa ruas daging buahnya. Semuanya harus dengan kalkulasi parameter yang jelas seperti integritas, konsep visi misi dan strategi serta sejauh mana bisa diimplementasikan, pengalaman, prestasi, luasnya jaringan relasi, keterlibatan dalam organisasi, kemampuan lobi, keterbukaan, serta varibel lain sesuai dengan kebutuhan.

Eksistensi partai politik sebagai motor demokrasi sangat diharapkan dapat melahirkan pemimpin yang punya kapabilitas pada saat pilkada. Apalagi keberadaan peran lembaga adat yang erat dengan muatan budaya lokal dalam menghadirkan pemimpin formal yang multitalenta

Beberapa partai politik belum memiliki optimasi dalam menggali kemampuan leadership kandidat yang akan bertarung. Sejak awal penekanannya pada biaya politik seputar taksiran biaya pemenangan dan berapa isi tas.

Sudah saatnya masyarakat tidak memilih kandidat pemimpin yang menonjol karena popularitas terkait stempel birokrat, kepala lembaga, dan faktor kedekatan ataupun elektabilitas yang substansinya cenderung karena faktor kesukaan (like and dislike), tapi lebih melihat pada kapabilitas yakni kompetensi (skill, knowledge, attitude) plus kemampuan pemecahan masalah (problem solving) dan pemilihan solusi.

Penentuan menu makanan sebaiknya tidak menyajikan makanan jadi tertentu yang belum tentu enak dan cocok di lidah. Sebaiknya ada pemberian aneka menu, sehingga lebih fleksibel dan bebas menentukan pilihan yang bercitra rasa. Begitu pula kehadiran pemimpin dalam pilkada. Pemaparan visi misi, gagasan, dan strategi tidak hanya setelah penentuan calon oleh lembaga resmi, tapi lebih baik selektif ditampilkannya para bacalon pemimpin secara kolektif oleh ormas atau lembaga informal yang ada di masyarakat secara pro aktif, sehingga masyarakat disajikan gambaran pemimpin yang potensial.

Pilkada yang ideal tidak hanya melahirkan pemimpin yang normatif, apalagi jika kota atau daerah tersebut memerlukan perubahan dan pernah dihinggapi virus politik PHP yang traumatis.

Semoga kota atau daerah kita dititipi Allah SWT tokoh pembaharu yakni pemimpin yang mampu membuat perubahan. Bukan sekedar popularitas, elektabilitas, dan isi tas tanpa kapasitas (kapabiltas) yang mumpuni bagi kepentingan rakyat.

Pemimpin bijak, negeri berbakti. DUMAI (Datang Untuk Majukan dumAI)

Salam Sang Perantau,
BANG DEL PASAR SENGGOL

0 komentar:

Posting Komentar